Milih kerja atau gelar?

Mungkin hal ini adalah salah satu dari sekian banyak problematika kehidupan yang dihadapi orang. Pada dasarnya orang hidup di dunia ini adalah untuk berusaha dengan segenap kemampuan dan keahlian yang dimilikinya guna mencapai sesuatu hal/ kondisi yang lebih baik. Manusia semenjak lahir telah diberikan anugerah berupa akal pikiran oleh sang pencipta dengan maksud agar mereka dapat berpikir mengenai diri dan lingkungannya. Dengan kata lain manusia telah dibekali otak dan pemikiran yang mampu mengantarkan dirinya guna mendapatkan kehidupan yang lebih baik seiring dengan perkembangan zaman.

Dalam peta perjalanan kehidupan manusia terdapat beberapa fase kehidupan yang dapat kita bagi menjadi beberapa bagian. Bagian-bagian itu antara lain fase lahir, tumbuh dan berkembang, remaja, dewasa, lanjut usia (tua). Memang tidak semua manusia yang lahir dan hidup di dunia ini dapat mengalami semua fase kehidupan itu secara utuh. Ada beberapa orang diantara kita yang mungkin tidak merasakan fase-fase dewasa/ tua dikarenakan banyak faktor (kematian).

Dari sejak kecil kita telah diajarkan oleh orang tua untuk mengenali diri dan lingkungan sekitarnya. Hal ini merupakan salah satu bentuk pengajaran awal yang didapatkan dari orang-orang terdekat kita. Seiring dengan bertambahnya umur maka secara umum kita mulai mengenyam apa yang disebut dengan pendidikan dasar. Biasanya pendidikan dasar tersebut kita dapatkan di lingkungan sekolah.

Banyak hal yang diajarkan di lingkungan sekolah. Sekolah pun ada beberapa tingkat dan jenis sesuai dengan umur dan perkembangan mental diri kita. Di Indonesia kita mengenal ada yang namanya Playgroup, Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, hingga Universitas/ Sekolah Tinggi. Keseluruhannya itu mengajarkan kita tentang bagaimana kita menghadapi dan menjalani kehidupan di dunia ini sesuai dengan kemampuan dan minat/ bakat yang kita miliki.

Begitu usia kita menginjak masa-masa remaja/ dewasa muda, maka secara mayoritas dan naluriah psikologi timbul semacam konsepsi kemandirian pada masing-masing individu. Kita biasanya sudah mulai malu untuk meminta uang secara terus menerus kepada orang tua dan sudah mulai berpikir untuk mendapatkan/ menghasilkan uang sendiri. Disamping itu mungkin tuntutan kebutuhan pribadi yang semakin banyak dan besar nilainya sehingga timbul perasaan malu apabila kebutuhan itu harus menjadi beban tanggunjawab orang tua sepenuhnya untuk dipenuhi.

Yang menjadi masalah kemudian adalah bagaimana mendapatkan penghasilan (sejumlah uang) yang dinilai cukup untuk memenuhi semua kebutuhan kita tersebut. Secara garis besar mungkin dapat kita bagi kedalam 2 (dua) cara yaitu dengan mulai merintis didalam dunia kerja atau mengenyam pendidikan yang cukup tinggi (Sekolah Menengah Atas/ Universitas) guna mendapatkan apa yang kita sebut dengan ijasah yang kemudian menjadi semacam “starting point” bagi kita untuk mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan/ pekerjaan dengan level dan spesifikasi tertentu.

Menurut saya, masalah memilih menempuh pendidikan dahulu dibandingkan dengan terjun langsung ke dunia keja di lapangan adalah masalah yang klasik. Dua-duanya memilki segi keuntungan dan kelemahannya masing-masing. Jika kita memilih gelar dahulu, maka secara otomatis masa belajar kita di bangku sekolah lebih lama. Begitu kita telah mampu menyelesaikan jenjang pendidikan setara dengan level Universitas, maka kita akan mendapatkan gelar/ predikat yang disandang dalam nama kita. Sebut saja kita telah menjadi seorang Sarjana. Tetapi bagi mereka yang hanya mengenyam pendidikannya hanya sampai sebatas Sekolah Menengah Atas atau mungkin dibawah itu, maka kita tidak menyebutnya sebagai seorang sarjana. Secara teori, seorang Sarjana telah mendapatkan ilmu yang “lebih” dari mereka yang pendidikannya hanya sebatas Sekolah Menengah Atas. Mereka biasanya sedikit berbangga mencantumkan gelar sarjananya untuk menunjukan bahwa mereka telah menempuh jenjang pendidikan yang lumayan tinggi dan gelar tersebut diraih dengan susah payah.

Tetapi pada dasarnya dalam menjalani kehidupan ini, menurut saya—ilmu-ilmu yang diajarkan di bangku perkuliahan itu tidaklah mutlak menjadi resep dan ramuan jitu supaya kehidupan seseorang itu sukses dan sejahtera. Masih banyak hal-hal lain dilapangan yang tentunya tidak berjalan seluruhnya sesuai dengan apa yang tertera di buku panduan. Mereka yang terlalu “text book” akan kaku dan terkesan monoton dalam menjalani kehidupan/ menghadapi dunia pekerjaan riil dilapangan. Dalam menghadapi permasalah kerja mereka biasanya selalu merujuk kepada text book yang telah mereka pelajari. Mereka akan sangat kecewa begitu mengetahui bahwa dalam dunia nyata kehidupan sehari-hari, banyak hal yang memang semuanya tidak berjalan mulus sebagaimana apa yang telah menjadi panduan didalam buku.

Bagi mereka yang lebih memilih untuk langsung terjun kedalam dunia kerja/ bisnis, biasanya mendapatkan keuntungan pengalaman yang lebih. Mereka dapat merasakan langsung bagaimana dunia kerja itu sesungguhnya. Mereka dapat belajar dari rekan kerja mereka yang telah berpengalaman dan berbagi ilmu/ cerita/ tips/ rahasia-rahasia bisnis yang selama ini mereka jalani. Dapat kita katakan bahwa sistem belajar mereka adalah “learning by doing”. Ada pepatah mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Mungkin pepatah tersebut ada benarnya karena bagaimanapun juga jika kita telah mengalami dan merasakan sesuatu hal secara langsung, maka biasanya ingatan tersebut akan tersimpan dengan baik didalam otak kita. Selain itu jika kita langsung terjun kedalam dunia kerja maka kita akan lebih cepat untuk merasakan nikmatnya mendapatkan uang dari hasil jerih payah tenaga kita sendiri.

Kelemahan jika kita terlalu percaya diri dengan langsung praktek kerja dilapangan menurut saya adalah mereka biasanya cenderung boros dan terlalu berani mengambil risiko tanpa dasar perhitungan yang jelas/ masuk akal. Mereka terkadang ceroboh dengan terlalu membuang banyak sumber daya yang ada dikarenakan mereka tidak mengetahui sistemnya secara utuh/ mengetahui ilmunya dengan jelas. Mereka sering kali terlampau nekad yang penting asalkan tujuan tercapai. Mereka pun terkadang sedikit lambat/ antipati dalam menerima saran/ usul dari saudaranya yang berpendidikan tinggi yang seolah-olah mengoreksi sistem kerja/ bisnis yang selama ini mereka jalani guna mendapatkan sistem baru yang lebih baik dan mutakhir. Mereka biasanya terlalu malas untuk mengupdate berita-berita terbaru/ metode-metode bisnis terbaru yang terbukti lebih efektif dan efisien karena mereka lupa akan perkembangan zaman dan teknologi yang demikian cepatnya selama bisnis mereka masih bisa berjalan. Mereka dapat dengan gampangnya mengatakan bahwa bisnis kami masih lancar-lancar saja sejauh ini, jadi kami rasa tidak perlu untuk melakukan pergantian sistem dan pemutakhiran yang dinilai hanyalah buang-buang uang dan waktu saja. Mereka baru menyadari bahwa keputusannya keliru manakala telah ada saingan lain dalam bisnisnya yang datang dengan metode dan menggunakan sistem/ teknologi terbaru sehingga mereka terbukti lebih efisien dan efektif dalam menjalankan usahanya sehingga mengancam keberlangsungan bisnis yang selama ini dijalani.

Oleh karena itu, jika kita ditanya milih gelar atau kerja dahulu—jawabannya tergantung kepada diri kita masing-masing. Kedua cara tersebut saya nilai memiliki tujuan yang sama yaitu guna menjadikan kehidupan diri kita lebih baik dari kondisi sekarang. Kita tidak bisa membohongi diri sendiri. Manusia tidak ada yang sempurna. Yang mengetahui kondisi dan kemampuan/ kelemahan diri kita yaitu diri kita sendiri. Hidup penuh dengan pilihan dan kita harus membuat keputusan. Apapun keputusan yang kita ambil kita harus siap dengan segala risikonya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang hidupnya bebas dari masalah. Yang menjadi pembelajaran adalah bagaimana kita membuat keputusan terhadap semua permasalahan yang kita hadapi dan menjalaninya dengan penuh semangat dan tanggungjawab didalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, ada beberapa hal pokok yang mesti diperhatikan. Hal tersebut antara lain bahwa yang namanya belajar—adalah tugas dan kewajiban manusia dari semenjak lahir hingga akhir hayatnya. Orang yang semangat belajarnya telah habis sebelum waktunya dia meninggal, maka dia akan dengan sendirinya dilindas oleh perputaran roda zaman yang tidak mengenal waktu dan ampun. Barangsiapa yang tidak bisa beradaptasi dengan perubahan zaman yang semakin canggih dan cepat, maka hidupnya akan terasa sangat berat dan penuh dengan kesulitan. Belajar bukanlah hanya sebatas apa-apa saja yang menjadi mata pelajaran di bangku sekolah. Belajar adalah mempelajari banyak hal yang jelas-jelas kita hadapi sehari-hari dalam kehidupan kita.

Hidup membutuhkan keseimbangan. Kita sebagai manusia yang diberi akal dan pikiran oleh sang pencipta, sudah selayaknya menyadari akan pentingnya pendidikan dan nilai pengalaman praktek dilapangan. Jika kita tidak berkesempatan untuk mendapatkan jenjang pendidikan yang cukup tinggi hingga level Universitas, janganlah berkecil hati. Ingatlah bahwa belajar itu tidak mesti di bangku sekolah dan tidak berhenti sampai di titik itu. Masih banyak media lainnya yang dapat kita jadikan sumber dan bahan pembelajaran guna menjadikan kualitas hidup kita lebih baik. Jika kita mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang cukup tinggi hingga level Universitas, maka kita pun janganlah sombong dan takabur. Masih banyak hal-hal lain diluar sana yang tidak tercantum didalam buku panduan ilmu yang selama ini kita pelajari. Hal-hal apa saja yang tertera didalam buku tidak semuanya mutlak berjalan demikian adanya. Jika kita seorang sarjana, maka sudah selayaknya kita pun menjadi sarjana plus—dalam artian tidak hanya cakap dalam hal teori tetapi juga cakap dalam hal praktek.

Gelar dan kerja adalah dua sisi yang tidak bisa dipisahkan. Esensi gelar adalah konsistensi pembelajaran yang dilakukan secara kontinuitas, sedangkan kerja adalah esensi dari aplikasi nyata terhadap ilmu yang telah kita pelajari selama ini. Gabungan ilmu dan pengalaman praktek yang nyata menjadikan kita manusia yang utuh, manusiawi dan berperikemanusiaan.


Journal Comments